Krisis Senyap: Diabetes di Tengah Situasi Kemanusiaan
Pendahuluan
Ketika bencana alam melanda atau konflik bersenjata memaksa jutaan orang mengungsi, perhatian utama hampir selalu tertuju pada penyediaan air bersih, makanan, vaksin, dan penanganan penyakit menular. Namun, ada satu krisis senyap yang jarang mendapatkan sorotan yakni penderita penyakit kronis seperti diabetes. Bagi mereka, terputusnya akses terhadap obat dan layanan kesehatan bukan sekadar hambatan sementara, melainkan ancaman yang dapat berujung pada komplikasi serius bahkan kematian.
Diabetes yang Terabaikan dalam Krisis
Dalam respons kemanusiaan, diabetes sering kali berada di skala prioritas kedua. Fokus utama biasanya diarahkan pada upaya pencegahan wabah penyakit menular seperti diare, malaria, atau campak. Sementara itu, pasien diabetes, khususnya mereka yang hidup dengan diabetes tipe 1, sepenuhnya bergantung pada insulin yang harus diberikan setiap hari. Masalah muncul ketika insulin membutuhkan penyimpanan dengan rantai dingin yang stabil, sesuatu yang sulit diwujudkan di tenda pengungsian tanpa ketersediaan listrik.
Kondisi semakin diperparah oleh keterbatasan alat pengukur kadar gula darah, strip tes, serta tenaga medis yang terlatih dalam penanganan penyakit kronis. Bagi penderita diabetes, situasi seperti ini bagaikan bom waktu yang setiap saat bisa memicu komplikasi akut yang mengancam jiwa.
Dampak Nyata di Lapangan
Dampak nyata dari kondisi ini dapat ditemukan pada berbagai situasi krisis, misalnya di kamp pengungsian pascabencana gempa bumi di Sulawesi Tengah. Banyak pasien diabetes kehilangan akses terhadap insulin selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Keadaan tersebut meningkatkan risiko ketoasidosis diabetik, sebuah komplikasi akut yang dapat berakibat fatal.
Pasien diabetes tipe 2 juga tidak terlepas dari ancaman serupa. Terhentinya akses terhadap obat-obatan serta hilangnya kendali atas pola makan menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang berujung pada komplikasi kronis, termasuk gagal ginjal, penyakit jantung, atau stroke. Dengan demikian, krisis kemanusiaan tidak hanya menimbulkan penderitaan akibat kelaparan atau penyakit menular, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup pasien dengan penyakit tidak menular seperti diabetes.
Upaya yang Dapat Dilakukan
Fenomena ini menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam tanggap darurat. Penyakit tidak menular, termasuk diabetes, harus diintegrasikan secara penuh dalam paket layanan kemanusiaan. Organisasi kemanusiaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pasien dengan penyakit kronis tetap mendapat akses terapi yang berkelanjutan. Upaya ini harus di lakukan dalam skala prioritas rutin, bukan opsional.
Selain itu, penguatan rantai pasok insulin menjadi hal yang sangat penting. Inovasi teknologi sederhana, misalnya penggunaan pendingin portabel hemat energi, dapat membantu menjaga kualitas insulin di lapangan. Dukungan logistik internasional perlu disiapkan agar aliran pasokan obat tidak terputus, bahkan di tengah kondisi darurat.
Tidak kalah penting adalah pemberdayaan pasien. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan praktis mengenai cara menyimpan insulin dalam keterbatasan, mengatur dosis secara aman ketika pasokan terbatas, serta menyesuaikan pola makan sesuai ketersediaan pangan di lokasi pengungsian. Upaya ini dapat meningkatkan ketahanan individu dalam menghadapi situasi krisis.
Namun, tanggung jawab terbesar tetap berada pada skala global. Pemerintah, lembaga donor, organisasi kemanusiaan dan industri farmasi harus bekerja sama menjamin ketersediaan obat-obatan kronis di wilayah terdampak bencana. Tanggung jawab ini bukan hanya soal manajemen logistik, tetapi juga menyangkut keadilan kesehatan dan solidaritas kemanusiaan.
Penutup
Diabetes dalam konteks kemanusiaan adalah krisis senyap yang sering terabaikan, meski dampaknya sangat nyata bagi jutaan orang. Penderitaan pasien seharusnya bisa dicegah jika terdapat perencanaan yang lebih inklusif sejak awal, termasuk dengan memasukkan layanan untuk penyakit kronis ke dalam strategi tanggap darurat. Sudah saatnya dunia mengakui bahwa bencana tidak hanya merenggut nyawa melalui penyakit menular atau kelaparan, tetapi juga melalui terhentinya terapi penyakit yang sesungguhnya dapat dikendalikan. Menempatkan diabetes dalam agenda kemanusiaan adalah wujud solidaritas global, sebuah pengakuan bahwa menjaga kesehatan berarti juga menjaga martabat manusia untuk tetap hidup dengan kualitas yang layak, bahkan di tengah krisis paling sulit sekalipun.
Artikel disusun oleh:
dr. Alfadea Irbah Allizaputri, M.Sc,. AIFO-K