Stigma Diabetes di Indonesia
Diabetes bukan identitas seseorang dan tidak bisa dinilai hanya dari usia, bentuk tubuh, makanan favorit, penggunaan insulin, atau riwayat keluarga.
Contoh kisah:
Rina, 24 tahun, didiagnosis diabetes tipe 1 sejak remaja. Tubuhnya terlihat sehat dan berat badannya normal. Namun, ia sering mendapat komentar, “Masih muda kok sudah diabetes?” atau “Pasti kebanyakan makan manis.”
Padahal, diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem imun merusak sel pankreas yang memproduksi insulin. Kondisi ini bukan semata-mata akibat pola makan. Rina membutuhkan insulin setiap hari agar glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai energi.
Suatu hari, seorang teman menyarankan Rina menghentikan insulin dan menggantinya dengan ramuan herbal. Saran seperti ini dapat berbahaya karena tubuh penyandang diabetes tipe 1 membutuhkan insulin untuk bertahan hidup. Penghentian insulin tanpa pengawasan medis dapat meningkatkan risiko ketoasidosis diabetik, yaitu kondisi darurat yang memerlukan pertolongan medis.
Cerita berbeda dialami Budi, 48 tahun, yang hidup dengan diabetes tipe 2. Ia memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, aktivitas fisik terbatas, dan hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah serta HbA1c meningkat. Penanganannya disesuaikan dengan kondisi tubuh, mulai dari perbaikan pola makan, aktivitas fisik, obat, hingga insulin bila diperlukan.
Dua orang sama-sama hidup dengan diabetes, tetapi penyebab, kebutuhan terapi, dan perjalanan kesehatannya dapat berbeda.
Karena itu, hindari menilai dari usia, bentuk tubuh, penggunaan insulin, atau satu jenis makanan. Dukungan yang lebih bermanfaat adalah membantu penyandang diabetes melakukan pemeriksaan rutin, memantau gula darah, menggunakan obat sesuai anjuran, dan berkonsultasi dengan dokter.
Sebelum berkomentar, pahami dulu. Diabetes perlu dikelola, bukan dijadikan alasan untuk menghakimi.
(Cerita ini merupakan ilustrasi edukasi, bukan kasus pasien tertentu)