{"pagination":"","result":[{"id_tulisan":"2","foto_tulisan":"12d90-journey-anita.png","judul_tulisan":"Menjadi Ibu dengan Diabetes: Mengajarkan Anak-Anak Bahwa Mama Juga Bisa Rentan","isi_tulisan":"
\r\n\tIbu sering digambarkan sebagai sosok penuh kekuatan, ketangguhan, dan pengorbanan tanpa akhir. Sebagai seorang ibu, kita diharapkan menjadi tiang penyangga keluarga—yang harus bisa mengendalikan segalanya, apapun yang terjadi. Tapi, hidup dengan diabetes tipe 1 selama lebih dari dua dekade telah mengajarkan saya bahwa menjadi ibu bukan berarti harus menjadi tak terkalahkan. Justru, salah satu pelajaran paling berharga yang bisa saya bagikan kepada anak-anak saya adalah bahwa mama mereka bukanlah superwoman. Saya bisa kuat, iya. Tapi saya juga bisa rentan. Dan itu tidak apa-apa.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSetiap hari dengan diabetes adalah sebuah upaya menjaga keseimbangan. Mengatur insulin, mengecek kadar gula darah, dan menghadapi ketidakpastian kondisi ini terasa seperti membawa beban yang tak terlihat. Namun, perjalanan ini bukan hanya milik saya sendiri—ini sudah menjadi urusan keluarga. Anak-anak saya tumbuh besar menyaksikan ritual harian saya: menyuntik insulin dan memantau kadar gula. Apa yang mungkin terasa rutin bagi saya, telah menjadi bagian dari kenangan masa kecil mereka—membentuk cara mereka memahami kasih sayang, tanggung jawab, dan empati.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSalah satu momen paling manis terjadi saat saya harus menyuntik insulin di tempat umum. Tanpa diminta, anak-anak saya langsung berdiri di sekeliling saya, melindungi saya dari tatapan penasaran. “Lindungi Mama!” kata mereka, membentuk lingkaran kecil saat saya menyuntik. Di momen-momen kecil itulah, saya melihat cinta mereka, kepedulian mereka, dan kesiapan mereka untuk menjadi penopang. Mereka adalah penjaga kecil saya, dan saya sangat menghargainya, lebih dari kata-kata yang bisa menggambarkannya.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSebagian orang mungkin berpikir bahwa anak-anak seharusnya tidak perlu memikul tanggung jawab seperti itu. Tapi saya melihatnya secara berbeda. Dengan membagikan kerentanan saya kepada mereka, saya justru mengajarkan pelajaran penting tentang hidup: bahwa kekuatan bukan berarti berpura-pura tidak bisa hancur, tapi justru mengakui kebutuhan kita dan meminta dukungan. Bahwa merawat satu sama lain bukanlah beban, melainkan bentuk cinta.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tMenjadi ibu dengan diabetes juga mengajarkan saya bahwa saya tidak harus memenuhi standar mustahil sebagai superwoman. Anak-anak saya tidak butuh sosok yang sempurna; mereka butuh sosok yang nyata. Mereka perlu melihat bahwa wajar untuk merasa kesulitan, untuk beradaptasi, dan untuk tetap melangkah meskipun menghadapi tantangan. Mereka perlu tahu bahwa ketangguhan sejati bukan berasal dari menyangkal kelemahan, tetapi dari keberanian untuk menghadapinya.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tJadi ya, saya adalah seorang ibu yang hidup dengan diabetes. Saya adalah seorang pengasuh, tapi saya juga seseorang yang membutuhkan perawatan. Dan dalam perjalanan ini, saya dan anak-anak saya belajar bersama—bahwa keluarga bukanlah tentang satu orang yang menanggung segalanya, tetapi tentang saling mendukung dalam setiap naik turunnya kehidupan.
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tPada akhirnya, saya berharap anak-anak saya tumbuh besar dengan memahami satu hal ini: bahwa kekuatan terbesar mama mereka bukanlah menjadi supermanusia, tetapi menjadi nyata.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n","waktu_tulisan":"2025-10-04 09:00:00","kontributor":"Anita Sabidi"},{"id_tulisan":"1","foto_tulisan":"93ec4-1-supir-truk.png","judul_tulisan":"Ketika Manis Itu Menjadi Luka","isi_tulisan":"
\r\n\tNama saya Suwarto, usia saya 48 tahun. Saya tinggal di sebuah kampung kecil di daerah Purworejo. Sehari-hari saya kerja sebagai supir truk antar kabupaten. Kerjaan ini udah saya lakoni sejak saya lulus SMA, hampir 30 tahun. Hidup di jalan itu keras, tapi buat saya biasa aja. Yang penting bisa bawa pulang uang buat istri dan dua anak saya yang masih sekolah.
\r\n\t
\r\n\tDulu saya gak pernah peduli soal kesehatan. Namanya kerja supir, pagi berangkat gelap, pulang juga kadang tengah malam. Makan apa aja yang penting kenyang. Nasi padang dua porsi, sambel pedes, kerupuk, es teh manis dua gelas. Kalau ngantuk, mampir warung kopi, pesan kopi hitam plus gorengan tahu isi, bakwan, tempe mendoan.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tGejala pertama muncul sekitar tiga tahun lalu. Saya sering buang air kecil, terutama malam. Bisa sampai lima-enam kali ke kamar mandi. Bangun tidur mulut kering, badan lemes, dan luka di kaki yang gak sembuh-sembuh. Tapi saya anggap biasa. Namanya orang kerja keras, ya wajar kalau kecapekan.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSampai suatu malam, waktu saya lagi di perjalanan dari Semarang ke Jogja, tiba-tiba pandangan saya kabur. Jalanan malam itu gelap, dan saya nyaris nabrak truk di depan. Untung saya sempat banting setir ke kiri. Truk saya nyangkut di parit kecil. Saya masih ingat, malam itu hujan rintik-rintik, saya duduk di pinggir jalan, tangan gemetar, jantung berdebar, gak ngerti apa yang terjadi sama badan saya.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tBesoknya istri saya paksa periksa ke Puskesmas. Saya sempat ngelawan, bilang, “Ah, paling masuk angin.” Tapi dia maksa, sampai nangis-nangis. Saya luluh. Waktu hasil cek gula darah keluar, angkanya 470 mg\/dl. Dokter bilang saya kena diabetes. Saya gak ngerti itu penyakit apa. Yang saya tahu cuma kata orang kampung, kalau udah diabetes, bisa diamputasi kakinya, matanya buta, lalu meninggal. Malam itu saya gak bisa tidur. Saya cuma lihat wajah istri saya yang ketiduran di kursi tunggu, dan saya nangis pelan-pelan.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tHari-hari setelah itu berat sekali. Saya disuruh minum obat tiap hari, kontrol rutin, dan jaga makan. Sementara kerjaan saya gak mungkin lepas dari jalanan dan warung pinggir jalan. Awalnya saya curi-curi. Makan bakmi godog pakai teh manis. Minum kopi sachet dua kali sehari. Saya pikir gak apa-apa, toh obat juga saya minum. Tapi ternyata makin kacau. Berat badan saya turun 10 kilo dalam 4 bulan. Mata saya sering kabur. Luka di kaki makin lebar. Sampai akhirnya istri saya ultimatum, “Kalau Mas masih kayak gini terus, aku gak sanggup liat Mas sakit.”<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSaya mulai pelan-pelan ubah hidup. Gak mudah. Saya mulai bawa bekal dari rumah. Nasi merah, sayur bening, sama pepes tahu. Kalau ngantuk, saya bawa botol air putih dingin. Gorengan saya ganti pisang rebus. Kalau warung pinggir jalan cuma ada makanan manis, saya pilih nggak beli. Saya juga mulai jalan kaki keliling kampung tiap pagi minggu. Kadang anak bungsu saya ikut. Dia sering pegang tangan saya, tanya, “Bapak masih sakit ya?” Dan saya cuma jawab, “Sedikit, Nak, tapi Bapak mau sembuh.”<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSekarang sudah dua tahun saya jalanin ini. Gula darah saya terakhir 136 mg\/dl. Luka di kaki sembuh total. Badan saya lebih ringan. Mata saya udah gak sering kabur. Dan yang paling penting, saya masih bisa kerja, masih bisa antar anak sekolah, dan masih bisa duduk di teras rumah sore-sore, minum teh tawar bareng istri.<\/p>\r\n
\r\n\t <\/p>\r\n
\r\n\tSaya belajar satu hal: hidup dengan diabetes itu bukan soal berhenti makan manis, tapi soal mau sayang sama diri sendiri. Saya juga paham, di luar sana banyak orang kayak saya. Orang kampung, kerja keras, gak ngerti penyakit, sampai terlambat. Makanya saya mau cerita ini. Biar orang-orang kayak saya tau, kalau bisa dicegah lebih awal. Dan kalau udah kena pun, masih bisa diatur. Hidup itu masih panjang, asal kita mau berjuang.<\/p>\r\n","waktu_tulisan":"2025-05-13 12:13:09","kontributor":"Suwarto"}],"row":0}